Rabu, 05 Januari 2011

Bagaimana Kita Mempercayai Aparat Hukum & Pejabat di Negara Kita?

Sungguh miris melihat perkembangan hukum di negara kita dan melihat tingkah polah para pejabat di negara kita. Pembaca pasti banyak melihat dan mendenganr kasus Gayus Tambunan yang begitu menghebohkan sepanjang tahun 2010 dimana melibatkan aparat pajak dan aparat penegak hukum (jaksa, polisi, halim dan pengacara) serta duit miliaran dg mudah dipindahkan dg cara tidak layak. Dilanjutkan tingkah saudara Gayus Tambunan melenggang ke Bali nonton petenis kesayangannya dimana seharusnya ia meringkuk dalam tahanan. Ini pun melibatkan aparat penegak hukum yang bersedia memperdagangkan jabatan, kekuasaan dan wewenangya. Terakhir kita mendengar Gayus Tambunan diduga dengan mudah melenggang ke Singapura & Macau. Ini masih dalam penyelidikan. Belum tentu benar. Tapi tak ada asap kalo tak ada api.
Seiring dg peristiwa di atas kita melihat peristiwa Joki Napi di lapas Bojonegoro dengan memberikan transaksi sejumlah uang. lagi-lagi ini pun melibatkan aparat penegak hukum & pejabat pemerintah di negara kita tercinta Indonesia.
Di lain tempat Mahkamah Kontitusi (MK) selaku lembaga penjamin tegaknya hukum & keadilan di negara ini juga diduga mengalami kasus suap yang melibatkan pejabat terhormat di dalamnya. Para anggota BK DPR yang "studi banding" ke luar negeri, bahkan dikabarkan malah nonton tarian perut. Masih banyak peristiwa lain yang miris menerjang para aparat hukum dan pejabat pemerintah kita.
Sementara di sisi lain rakyat menjerit karena harga cabai yang menjekik. Warga Yogyakarta yang baru saja merasa lega sesaat karena "wedhus gembel" sudah tidak muntah dari Gunung Merapi, dikejutkan dengan banjir lahar yang menerjang dengan tidak kalah dahsyat membanjiri rumah dan pemukiman mereka. Sementara saat ini rakyat mulai menghitung-hitung anggarannya bersiap menyambut pembatasan Premium.
Yang aku rasakan saat ini kok para aparat penegak hukum dan pejabat pemerintah di negara ini tidak punya nurani. Nggak punya hati. Kok ya mereka tega mengutip duit rakyat sampai milyaran rupiah, sementara di sisi lain rakyat menjerit karena kebutuhan pokok harian untuk hidup semakin mahal. Apakah kita ini masih bisa mempercayai mereka? Ini benar-benar sebuah keprihatinan yang sangat mendalam dan serius. Kondisi ini mengancam mereka rakyat kecil. Namun mereka yang kaya, berduit dan punya kekuasaaan tentu tidak merasakan itu. Rakyat hanya menjadi penonton semua kejadian itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Lalu bagaimana?
Mari kita mulai dari diri kita. Kendalikan diri untuk tidak korupsi di tempat atau lingkungan kita. Tidak harus korupsi uang. korupsi waktu juga bisa terjadi, misalnya: jam kerja dipakai main Facebook, jam belajar buat nongkrong. Bila kita terlibat kegiatan atai project di tempat kerja, ayo kita kerjakan dengan kejujuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar